Ajarkan aku ALLAH
tetap dosa lhoo!!!!!
untuk apa nilai yang bagus bila toh dengan cara yang salah????
tak ada kata "pacaran islami"
surat qu untuk kekasihqu RASULULLAH
Mengendalikan Marah
Kiriman: aziee
Editor : b_b
CARA MENGURUS KEMARAHAN
1. Memahami apa yang mencetusnya serta manfaat jangka pendeknya.
Kita perlu memahami dan mengenalpasti pencetus-pencetus yang boleh jadikan kita hilang akal seperti kata-kata tertentu orang, tabiat orang, tidak bertoleransi dan sebagainya. Manfaat atau kebaikan yang boleh didapati daripada pelepasan kemarahan kita ialah mungkin seperti berikut: a) Saya rasa lega
b) Orang mendengar saya
c) Rasa seperti diri sebenar lepas marah
d) Jika tidak marah saya akan menangis sahaja
e) Melaui kemarahan orang tahu pendirian mereka
f) Kemarahan menghilangkan perasaan takut
g) Jika saya tak marah orang akan fikir saya lemah
Manfaat-manfaat kemarahan ini adalah jangka pendek sahaja. Sebenarnya ia boleh dicapai melalui cara lain yang lebih asertif. Melepaskan kemarahan membawa berkat yang sementara sahaja. Pada jangka panjang ia akan menjejaskan perhubungan kita.

2. Belajar menenangkan diri dalam situasi genting.
Bila perasaan marah timbul kita boleh
a) Gantinya dengan aktiviti lain seperti memandang pada benda dan bukan orang, memikir tentang apa yang kita lakukan pada hari ini atau menerangkan suasana bilik kepada diri sendiri atau membilang sampai 10.
b) Mengelakkan melalui atau meninggalkan tempat itu atau minta diri untuk berfikir
c) Menukarkan ritma otak seperti mendengar muzik atau lakukan senaman
d) Guna teknik relaks seperti menarik dan menahan nafas selama 5 saat
e) Kecut dan regangkan otot selama 5 saat
f) Urut bahagian dada dan perut
g) Ubah cara duduk dan regangkan bahu
h) Berimaginasi tentang pemandangan yang tenang atau yang neutral atau ketawa pada diri sendiri kerana situasi itu
3. Belajar cara atau strategi untuk mengelak kemarahan kelak
a) Mengenalpasti samada kemarahan kita itu sihat atau tak sihat iaitu membina atau destruktif
b) Elak daripada menggunakan dadah atau alcohol untuk melupakan sesuatu
c) Baca dan menambahkan ilmu tentang pengurusan kemarahan
d) Bincang dengan orang lain yang berjaya menguruskan kemarahan mereka
e) Ubah kepada gaya hidup yang lebih sihat dan kurang stress
f) Sentiasa menahan dan mencabar setiap pemikiran yang membawa kemarahan
g) Sedari tentang kemarahan yang tersembunyi dalam sindiran atau perli
h) Belajar menjadi lebih asertif atau hadiri kursus untuk menambah kemahiran asertif
i) Meneliti segala punca kemarahan dari dahulu
j) Berbincang dengan kaunselor atau pakar psikologi
k) Menghadiri kursus mengurus kemarahan
Mengikut pakar psikologi marah adalah emosi sekunder. Di belakang emosi marah ini terdapat emosi primer seperti keresahan, duka, hampa, kehilangan, takut dan sebagainya yang terbit kerana sesuatu keperluan tidak diselesai atau dicapai. Sebenarnya kemarahan ini menjejaskan peluang kita untuk mencapai sesuatu keperluan itu. Bila kita dapat mengenalpasti keperluan-keperluan ini kita dapat berusaha untuk mencapainya dan dengan itu kemarahan dapat dikawal atau diurus dengan sihat. Emosi marah adalah satu fenomena rasional yang berlaku di otak kiri kita. Untuk mengurusnya kita perlu menggunakan kedua-dua bahagian otak, khasnya otak kanan dan bahagian lain otak berkenaan dengan emosi untuk mengecam dan sedar bila perasaan marah muncul. Dengan demikian kita dapat menangani kemarahan dengan cepat dan mengekalkan ketenangan kita.

Kemarahan

Jangan Marah! Jangan Marah ! Jangan Marah !
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Datang seorang lelaki dan berkata pada Rasulullah Saw: “Nasihatilah aku dan berikanlah nasihat yang baik padaku”, lalu Rasulullah berkata: “Jangan marah, jangan marah, jangan marah, diulang tiga kali oleh Rasulullah.” (HR Abu Hurayrah).
Jadi rupanya kemarahan ini berasal dari segala musibah yang berantai. Kalau seseorang sudah mengawali sebuah permasalahan dengan kemarahan, maka kemudian menjadi gelap mata dan hilanglah akal sehat lalu terjadilah hal-hal yang kita sebut sadisme.
Tidakkah kita ingat pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan melalui Ibnu Mas’ud: “Bahwa tidak halal darah seorang muslim, kecuali karana tiga hal, yang pertama yaitu sebagai hukuman bagi duda atau janda yang berzina, maka dia bisa dihukum sampai tumpah darahnya, yang kedua kalau seseorang melakukan pembunuhan terhadap orang lain tanpa hak, maka orang itu dibunuh lagi berdasarkan tuntutan dari keluarga yang terbunuh, yang disebut Qisas. Dan yang ketiga untuk orang yang meninggalkan agamanya, murtad”.
Qisas merupakan penyimpang bagi tegaknya masalah sosial yang tempang.
Nasihat Rasulullah tentang jangan marah, sangat kontradiktif dengan situasi masyarakat di malaysia (yang mayoritas muslim) dewasa ini, kita semua adalah umat Muhammad, tetapi mengapa akhir-akhir ini tiba-tiba umat menjadi pemberang, mudah menyala-nyala, mudah panas.
Orang boleh saja berteori sosiologi, berteori psikologi atau teori macam-macam, bahawa kemarahan itu bentuk keputus asaan dari ketidak berdayaan akibat struktur sosial yang tak memungkinkan orang untuk mengekspresikan atau merasa aman, menjaga eksistensi dirinya sendiri. Tapi persoalannya, lepas dari struktur dan non struktural, yang terpenting sederhana saja, jangan marah!
Penggunaan kekerasan untuk sampai terjadi pembunuhan adalah suatu bentuk penggunaan kekuasaan secara telanjang, penunjukkan kekuatan secara terang-terangan, yang sayangnya upaya penonjolan kekuasaan dan kekuatan itu bukan ada pada masyarakat bawah saja yang katanya secara struktural terpelanting menjadi kalah tidak mendapat kesempatan yang wajar sehingga putus asa. Tapi juga nampak pada penggunaan kekuasaan, nampak pada kelompok lapisan menengah ke atas yang tidak dalam posisi kalah, yang semestinya tidak dalam posisi putus asa, tetapi ada kecenderungan juga keteladanan yang diberikan kelompok–kelompok diatas adalah penggunaan kekuasaan secara telanjang, mau dibilang halus sebenarnya tidak halus juga.
Bentuk-bentuk pemaksaan melalui pidato-pidato, petunjuk-petunjuk dan pengarahan-pengarahan; semua orang tahu itu pemaksaan, semua orang tahu itu unjuk kuasa. Oleh karena itu tidak selalu tepat dikatakan bahwa meningkatnya kriminalitas karena orang sudah putus asa akibat kalah, akibat tidak mendapat struktur yang adil untuk hidup secara fair, ternyata di kelompok atas dalam posisi berkuasa yang seharusnya memberikan keteladanan yang baik ternyata seperti itu juga.
Jadi kuncinya bukan struktur atau non struktural, sederhana saja kalau kita renungkan dalam-dalam, yaitu jangan marah!
Bagaimana Seseorang itu dapat mengendalikan Marah? Kondisi yang mempengaruhi secara external dapat dilawan dengan kondisi internal. Kalau memang kita tahu, kelemahan kita gampang marah dan kondisi diluar diri kita juga memungkinkan kita marah, kita lawan dengan kekuatan internal. Bentuk kekuatan internalnya yaitu dengan Puasa. Dengan puasa akan memperlemah keinginan yang bukan-bukan pada diri kita, ketika hawa kita, ambisi kita, hawa nafsu kita menjadi liar tak terkendali, dengan puasa akan menjadi terkendali.
Naiknya angka kriminalitas pembunuhan, apakah ada hubungannya dengan dekadensi moral atau akhlak? Itu sudah jelas,manakala moral melemah,ahlaq melemah kembali,marilah kembali kepada agama. Banyak orang mencoba menghindari agama namun tidak bisa. Dulu tahun ‘70-an marak terjadi demonstrasi dimana-mana menyuarakan anti hukuman mati. Pakar hukum bicara dengan semangat humanisme. Lalu terbentuklah gerakan anti hukuman mati, namun kini setelah banyak kasus ternyata banyak orang teriak meminta ada hukuman mati.
Akhirnya orang-orang malah membutuhkan Islam. Islam diterima memang karena kebutuhan, karena ajarannya memberikan kedamaian, keadilan, kepuasan dalam hidup ini. Orang sekarang sudah suntuk dengan berbagai macam sistem hukum. Filosofis hukum, aturan-aturan hukum dengan macam-macam ideologi, akhirnya orang melihat yang praktis saja. Ternyata Islam memang memberikan jaminan dari dulu.
Dalam al Qur’an Allah berfirman: I’dilu huwa aqrabu littaqwa. Artinya, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa" (QS Al Maidah 5:8)
Omong kosong bicara taqwa, jika tidak mampu menunjukkan citra keadilan, jika apresiasinya terhadap keadilan kecil sekali, walaupun berhaji tiap tahun. Omong kosong juga walaupun pakai sorban tebal, topi putih, kemudian membangun citra sebagai seorang haji, sebagai pemimpin muslim, namun tidak ada kepedulian dan minat terhadap keadilan.
Kenapa baru sekarang banyak orang menuntut hukuman mati bagi pelaku kejahatan sadis diberlakukan? Karena akhirnya yang tersentuh adalah fitrah manusia, fitrah terhadap keadilan, tuntutan terhadap keadilan. Kemarin manusia masih silau oleh sistem kehidupan yang lain. Uni Sovyet berjaya dengan komunismenya, Amerika masih berjaya dengan kapitalismenya, liberalismenya, demokratismenya. Dan sekarang setelah Uni Sovyet bubar berantakan, menyisakan kemiskinan dimana-mana dan orang akhirnya melihat kemunafikan yang ditonjolkan oleh perilaku orang-orang politik Amerika dalam kasus Bosnia. Orang semakin sedar dan percaya serta ,bercakap kosong itu merupakan cirri-ciri kapitalisme, liberalisme, komunisme dan akhirnya sekarang memrlukan sesuatu yang lain.
Dicatat oleh fani afnan jannati
Muslimah ku.....







