Mengendalikan Marah


Cara Mengurus Kemarahan
Kiriman: aziee
Editor : b_b


Bagaimanakah perasaan anda hari ini? Adakah anda rasa marah? Gembira? Murung? Kecewa? Takut? Bersalah? Tersinggung? Hormat? Bertanggungjawab? Bolehkah anda mengenalpasti dengan tepat apa yang anda rasa? Bolehkah anda cari perkataan-perkataan lain untuk mencerminkan apa yang anda rasa? Kini manusai telah cipta lebih daripada 2000 perkataan untuk menerangkan jenis-jenis perasaan yang dialaminya. Kefahaman tentang tiap-tiap perkataan mengenai perasaan iaitu emosi manusia penting untuk mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain.

CARA MENGURUS KEMARAHAN

1. Memahami apa yang mencetusnya serta manfaat jangka pendeknya.

Kita perlu memahami dan mengenalpasti pencetus-pencetus yang boleh jadikan kita hilang akal seperti kata-kata tertentu orang, tabiat orang, tidak bertoleransi dan sebagainya. Manfaat atau kebaikan yang boleh didapati daripada pelepasan kemarahan kita ialah mungkin seperti berikut: a) Saya rasa lega
b) Orang mendengar saya
c) Rasa seperti diri sebenar lepas marah
d) Jika tidak marah saya akan menangis sahaja
e) Melaui kemarahan orang tahu pendirian mereka
f) Kemarahan menghilangkan perasaan takut
g) Jika saya tak marah orang akan fikir saya lemah

Manfaat-manfaat kemarahan ini adalah jangka pendek sahaja. Sebenarnya ia boleh dicapai melalui cara lain yang lebih asertif. Melepaskan kemarahan membawa berkat yang sementara sahaja. Pada jangka panjang ia akan menjejaskan perhubungan kita.




2. Belajar menenangkan diri dalam situasi genting.


Bila perasaan marah timbul kita boleh
a) Gantinya dengan aktiviti lain seperti memandang pada benda dan bukan orang, memikir tentang apa yang kita lakukan pada hari ini atau menerangkan suasana bilik kepada diri sendiri atau membilang sampai 10.
b) Mengelakkan melalui atau meninggalkan tempat itu atau minta diri untuk berfikir
c) Menukarkan ritma otak seperti mendengar muzik atau lakukan senaman
d) Guna teknik relaks seperti menarik dan menahan nafas selama 5 saat
e) Kecut dan regangkan otot selama 5 saat
f) Urut bahagian dada dan perut
g) Ubah cara duduk dan regangkan bahu
h) Berimaginasi tentang pemandangan yang tenang atau yang neutral atau ketawa pada diri sendiri kerana situasi itu
3. Belajar cara atau strategi untuk mengelak kemarahan kelak
a) Mengenalpasti samada kemarahan kita itu sihat atau tak sihat iaitu membina atau destruktif
b) Elak daripada menggunakan dadah atau alcohol untuk melupakan sesuatu
c) Baca dan menambahkan ilmu tentang pengurusan kemarahan
d) Bincang dengan orang lain yang berjaya menguruskan kemarahan mereka
e) Ubah kepada gaya hidup yang lebih sihat dan kurang stress
f) Sentiasa menahan dan mencabar setiap pemikiran yang membawa kemarahan
g) Sedari tentang kemarahan yang tersembunyi dalam sindiran atau perli
h) Belajar menjadi lebih asertif atau hadiri kursus untuk menambah kemahiran asertif
i) Meneliti segala punca kemarahan dari dahulu
j) Berbincang dengan kaunselor atau pakar psikologi
k) Menghadiri kursus mengurus kemarahan

Mengikut pakar psikologi marah adalah emosi sekunder. Di belakang emosi marah ini terdapat emosi primer seperti keresahan, duka, hampa, kehilangan, takut dan sebagainya yang terbit kerana sesuatu keperluan tidak diselesai atau dicapai. Sebenarnya kemarahan ini menjejaskan peluang kita untuk mencapai sesuatu keperluan itu. Bila kita dapat mengenalpasti keperluan-keperluan ini kita dapat berusaha untuk mencapainya dan dengan itu kemarahan dapat dikawal atau diurus dengan sihat. Emosi marah adalah satu fenomena rasional yang berlaku di otak kiri kita. Untuk mengurusnya kita perlu menggunakan kedua-dua bahagian otak, khasnya otak kanan dan bahagian lain otak berkenaan dengan emosi untuk mengecam dan sedar bila perasaan marah muncul. Dengan demikian kita dapat menangani kemarahan dengan cepat dan mengekalkan ketenangan kita.





“Angry people are those who are most afraid” -Robert Anthony-

“Orang yang paling kuat adalah orang yang dapat menahan kemarahannya” -Imam AL Ghazali-

Kemarahan


Jangan Marah! Jangan Marah ! Jangan Marah !

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Datang seorang lelaki dan berkata pada Rasulullah Saw: “Nasihatilah aku dan berikanlah nasihat yang baik padaku”, lalu Rasulullah berkata: “Jangan marah, jangan marah, jangan marah, diulang tiga kali oleh Rasulullah.” (HR Abu Hurayrah).

Jadi rupanya kemarahan ini berasal dari segala musibah yang berantai. Kalau seseorang sudah mengawali sebuah permasalahan dengan kemarahan, maka kemudian menjadi gelap mata dan hilanglah akal sehat lalu terjadilah hal-hal yang kita sebut sadisme.

Tidakkah kita ingat pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan melalui Ibnu Mas’ud: “Bahwa tidak halal darah seorang muslim, kecuali karana tiga hal, yang pertama yaitu sebagai hukuman bagi duda atau janda yang berzina, maka dia bisa dihukum sampai tumpah darahnya, yang kedua kalau seseorang melakukan pembunuhan terhadap orang lain tanpa hak, maka orang itu dibunuh lagi berdasarkan tuntutan dari keluarga yang terbunuh, yang disebut Qisas. Dan yang ketiga untuk orang yang meninggalkan agamanya, murtad”.

Qisas merupakan penyimpang bagi tegaknya masalah sosial yang tempang.

Nasihat Rasulullah tentang jangan marah, sangat kontradiktif dengan situasi masyarakat di malaysia (yang mayoritas muslim) dewasa ini, kita semua adalah umat Muhammad, tetapi mengapa akhir-akhir ini tiba-tiba umat menjadi pemberang, mudah menyala-nyala, mudah panas.

Orang boleh saja berteori sosiologi, berteori psikologi atau teori macam-macam, bahawa kemarahan itu bentuk keputus asaan dari ketidak berdayaan akibat struktur sosial yang tak memungkinkan orang untuk mengekspresikan atau merasa aman, menjaga eksistensi dirinya sendiri. Tapi persoalannya, lepas dari struktur dan non struktural, yang terpenting sederhana saja, jangan marah!

Penggunaan kekerasan untuk sampai terjadi pembunuhan adalah suatu bentuk penggunaan kekuasaan secara telanjang, penunjukkan kekuatan secara terang-terangan, yang sayangnya upaya penonjolan kekuasaan dan kekuatan itu bukan ada pada masyarakat bawah saja yang katanya secara struktural terpelanting menjadi kalah tidak mendapat kesempatan yang wajar sehingga putus asa. Tapi juga nampak pada penggunaan kekuasaan, nampak pada kelompok lapisan menengah ke atas yang tidak dalam posisi kalah, yang semestinya tidak dalam posisi putus asa, tetapi ada kecenderungan juga keteladanan yang diberikan kelompok–kelompok diatas adalah penggunaan kekuasaan secara telanjang, mau dibilang halus sebenarnya tidak halus juga.

Bentuk-bentuk pemaksaan melalui pidato-pidato, petunjuk-petunjuk dan pengarahan-pengarahan; semua orang tahu itu pemaksaan, semua orang tahu itu unjuk kuasa. Oleh karena itu tidak selalu tepat dikatakan bahwa meningkatnya kriminalitas karena orang sudah putus asa akibat kalah, akibat tidak mendapat struktur yang adil untuk hidup secara fair, ternyata di kelompok atas dalam posisi berkuasa yang seharusnya memberikan keteladanan yang baik ternyata seperti itu juga.

Jadi kuncinya bukan struktur atau non struktural, sederhana saja kalau kita renungkan dalam-dalam, yaitu jangan marah!

Bagaimana Seseorang itu dapat mengendalikan Marah? Kondisi yang mempengaruhi secara external dapat dilawan dengan kondisi internal. Kalau memang kita tahu, kelemahan kita gampang marah dan kondisi diluar diri kita juga memungkinkan kita marah, kita lawan dengan kekuatan internal. Bentuk kekuatan internalnya yaitu dengan Puasa. Dengan puasa akan memperlemah keinginan yang bukan-bukan pada diri kita, ketika hawa kita, ambisi kita, hawa nafsu kita menjadi liar tak terkendali, dengan puasa akan menjadi terkendali.

Naiknya angka kriminalitas pembunuhan, apakah ada hubungannya dengan dekadensi moral atau akhlak? Itu sudah jelas,manakala moral melemah,ahlaq melemah kembali,marilah kembali kepada agama. Banyak orang mencoba menghindari agama namun tidak bisa. Dulu tahun ‘70-an marak terjadi demonstrasi dimana-mana menyuarakan anti hukuman mati. Pakar hukum bicara dengan semangat humanisme. Lalu terbentuklah gerakan anti hukuman mati, namun kini setelah banyak kasus ternyata banyak orang teriak meminta ada hukuman mati.

Akhirnya orang-orang malah membutuhkan Islam. Islam diterima memang karena kebutuhan, karena ajarannya memberikan kedamaian, keadilan, kepuasan dalam hidup ini. Orang sekarang sudah suntuk dengan berbagai macam sistem hukum. Filosofis hukum, aturan-aturan hukum dengan macam-macam ideologi, akhirnya orang melihat yang praktis saja. Ternyata Islam memang memberikan jaminan dari dulu.

Dalam al Qur’an Allah berfirman: I’dilu huwa aqrabu littaqwa. Artinya, “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa" (QS Al Maidah 5:8)

Omong kosong bicara taqwa, jika tidak mampu menunjukkan citra keadilan, jika apresiasinya terhadap keadilan kecil sekali, walaupun berhaji tiap tahun. Omong kosong juga walaupun pakai sorban tebal, topi putih, kemudian membangun citra sebagai seorang haji, sebagai pemimpin muslim, namun tidak ada kepedulian dan minat terhadap keadilan.

Kenapa baru sekarang banyak orang menuntut hukuman mati bagi pelaku kejahatan sadis diberlakukan? Karena akhirnya yang tersentuh adalah fitrah manusia, fitrah terhadap keadilan, tuntutan terhadap keadilan. Kemarin manusia masih silau oleh sistem kehidupan yang lain. Uni Sovyet berjaya dengan komunismenya, Amerika masih berjaya dengan kapitalismenya, liberalismenya, demokratismenya. Dan sekarang setelah Uni Sovyet bubar berantakan, menyisakan kemiskinan dimana-mana dan orang akhirnya melihat kemunafikan yang ditonjolkan oleh perilaku orang-orang politik Amerika dalam kasus Bosnia. Orang semakin sedar dan percaya serta ,bercakap kosong itu merupakan cirri-ciri kapitalisme, liberalisme, komunisme dan akhirnya sekarang memrlukan sesuatu yang lain.


Dicatat oleh fani afnan jannati

Muslimah ku.....



MUSLIMAH SEJATI
Yang dikatakan MUSLIMAH SEJATI adalah…….
Yang melindungi diri dan hati budinya dengan malu,
Yang menaburkan sopannya kesetiap penjuru
Yang melembutkan suara merdunya
Yang sentiasa cekal dan tabah hatinya
Yang tidaj pernah patah semangat wajanya
Yang memberikan cintanya kesejagat maya
Yang memenuhkan hati denagn keinsafan
Yang mengosongkan kalbu dari dendam
Yang menyemarakkan kasturi di kelompok IMAN
Wanita dilahirkan dari rusuk lelaki (Adam)…..
Dijadikan layak untuk jadi Suri
Dicipta untuk pasangan suami
Diwujudkan untuk meramaikan umat Nabi
Mereka…………..
Adalah sebahagian kurniaan ilahi
Adalah sebahagian dari keindahan alam
Adalah ibarat buklan bintang
Adalah penyeri gelap malam
Wanita dipandang dari peribadinya…………
Wanita dilihat dari budi bahasanya
Wanita dinilai dari kesabarannya
Wanita diperhati dari kesetiaannya
Wanita ditinjau dari sifat keibuannya.
Padamulah pemudi impian sejati,
Jadilah diri penghias madah.
RENUNGAN ABADI... FANI AFNAN JANNATI

Marah dalam Islam

Dalam literatur Islam, marah disebut al-ghadhab, yang berarti sikap tidak rela terhadap sesuatu dan dari sesuatu. Biasanya marah merupakan bentuk emosional yang menimbulkan penyerangan dan penyiksaan guna mengobati apa yang terdapat dalam hati. Kemarahan yang hebat dan memuncak disebut al-ghaizh.

Marah merupakan suatu hal yang wajar dan manusiawi. Oleh karena itu, ada marah yang terpuji dan dibolehkan agama. Marah dibolehkan apabila bertujuan untuk mempertahankan diri, kehormatan, harta, agama, hak-hak umum, dan menolong orang yang dizalimi. Namun, apabila marah ditujukan untuk kepuasan nafsu dan alasan yang tidak jelas, maka marah seperti ini dicela dan dilarang agama karena akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Kemampuan mengendalikan diri ketika marah dan dari marah yang tercela sangat dipujikan Nabi SAW. Kata beliau, ''Orang kuat bukanlah yang mampu mengalahkan musuh, tapi yang mampu mengendalikan diri ketika marah.'' (HR Bukhari). Allah SWT pun memberikan pujian dan memberi gelar ''muhsinin'' kepada orang yang mampu menahan marah.

Firman-Nya, ''Orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.'' (QS 3: 134).

Dalam suatu kesempatan, Nabi SAW pernah memberikan pesan beharga kepada seorang sahabat yang datang meminta nasihat padanya. Pada saat itu, Rasulullah bersabda, ''Janganlah kamu marah,'' lalu Nabi SAW mengulang-ulangnya beberapa kali, ''Janganlah kamu marah.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, marah perlu dikendalikan dengan baik sesuai dengan tuntutan Islam. Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam menahan dan mengendalikan marah. Pertama, perlu disadari bahwa marah berasal dari setan, karenanya ketika marah segera mengingat Allah dan berlindung kepada-Nya dengan mengucapkan ta'awuz.

Kedua, apabila marah belum reda, maka perlu mengubah situasi dan kondisi yang sedang dialami dengan suasana lain. Bila orang yang marah sedang berdiri, maka hendaklah ia duduk, bila marah belum juga berkurang hendaklah berbaring. Perubahan suasana ini akan membuat rileks dan diharapkan membuat kemarahan menjadi reda dan berkurang.

Ketiga, apabila langkah di atas belum berhasil mengatasi marah, segeralah berwudhu. Langkah ini penting dilakukan mengingat marah berasal dari dorongan setan, sementara setan diciptakan dari api, maka untuk meredakannya dengan berwudhu. Inilah tuntunan yang diajarkan Nabi SAW untuk mengendalikan marah yang sudah sampai memuncak.

Kemampuan menahan dan mengendalikan marah harus ditampilkan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara. Bahkan, dalam kehidupan bernegara, kemampuan menahan marah perlu dimiliki setiap anggota masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh dorongan-dorongan yang bersifat destruktif yang kadangkala sengaja diciptakan pihak tertentu untuk menimbulkan kekacauan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Sumber: republika, 04 Februari 2004


Sifat Malu



Zaman mutaakhir telah menampakkan kita akan banyak kepincangan perilaku, merosotnya akhlaq dan tersebarnya kemaksiatan. Sebahagian manusia telah hilang rasa malunya kepada orang lain. Disebabkan hilangnya perasaan malu, pelbagai tingkah laku tidak senonoh telah ditonjolkan ke tengah-tengah masyarakat.

Malu adalah sebahagian daripada iman. Sifat malu sangat penting untuk dimiliki oleh setiap muslim. Malah Nabi sallAllahu ‘alaihi wasallam sendiri merupakan insan yang sangat pemalu. Diriwayatkan oleh Bukhari bahawa Nabi sallAllahu ‘alaihi wasallam lebih malu sifatnya dari seorang gadis yang di dalam pingitannya.

Pentingnya memiliki sifat malu. Kerana dengan perasaan malu yang terdapat pada diri, seseorang muslim akan mencegah dirinya dari membuat perkara yang dilarang. Dia akan malu untuk melakukan perkara tidak senonoh dan bermaksiat. Dia akan malu untuk pergi ke tempat yang tidak sepatutnya. Dia akan malu untuk cuba-cuba sesuatu yang mungkar. Dia akan malu menzahirkan perilaku buruknya. Kerana malu telah menjadi perisai dirinya.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri rodhiyallohu ‘anhu Dia berkata: Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya sebahagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.”
(HR Bukhari)

Ajaran para nabi sejak dulu hingga nabi terakhir, Nabi Muhammad sallAllahu ‘alaihi wasallam ada sebahagiannya telah luput. Namun, malu adalah antara ajaran yang tidak luput hingga sekarang. Ini menunjukkan bahawa malu mempunyai nilai yang tinggi di dalam agama.

Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu” bukanlah kata-kata galakan untuk manusia berbuat sesuka hati. Tetapi ia bermaksud ancaman buat manusia yang tidak mempunyai perasaan malu untuk berbuat kerosakan dan kemaksiatan. Maksud ayat tersebut juga adalah ingin memberitahu bahawa malu adalah perisai kepada diri seseorang. Tanpa malu, seseorang akan terdedah untuk melakukan kemaksiatan.

Pernah diriwayatkan bahawa terdapat seorang Ansar yang memberikan nasihat kepada sahabatnya tentang malu. Beliau menyalahkan sahabatnya yang selalu malu dalam banyak hal. Kebetulan ketika itu Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wasallam sedang lalu dan terdengar perbualan mereka berdua. Baginda sallAllahu ‘alaihi wasallam telah memberi pesan kepada orang yang memberi pesan kepada sahabatnya, dengan berkata: “Biarkanlah dia, kerana malu itu sebahagian daripada iman.”

Malah Nabi sallAllahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang malu yang mafhumnya:

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Dan malu adalah salah satu cabang iman.”
(Shahih Muslim No.50)

Hadis riwayat Imran bin Husaini ra., ia berkata: Nabi saw. pernah bersabda: “Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan.”
(Shahih Muslim No.53)

Muslimin-muslimat sekalian,

Antara faktor kepincangan nilai di dalam masyarakat adalah hilangnya rasa malu dari dalam diri. Anak akan mula mengangkat suara dan kurang ajar terhadap ibubapa akibat lunturnya malu. Pelajar mula tidak hormat kepada gurunya apabila sudah hilang malu. Lelaki mula melangkah ke tempat maksiat akibat dia membuang perasaan malu. Perempuan mula tidak sopan di khalayak ramai kerana pudarnya malu. Si gadis mula mempamerkan diri di khalayak ramai apabila kendurnya malu. Pasangan bercinta mula berjumpa dan bercanda kerana mereka sudah tidak malu. Orang ramai mula meminta-minta jawatan apabila cairnya malu. Pengguna jalan raya mula melanggar peraturan jalan raya dan bersikap tidak beradab apabila kurang rasa malu. Masyarakat mula dihinggapi perasaan ingin popular seperti artis dan menyanyi melalak terlolong akibat tidak malu. Pemimpin mula menganggap jawatan dan amanah sebagai batu loncatan mengaut keuntungan apabila pudarnya malu. Pemerintah mula melakukan kezaliman, juga akibat dari hilangnya rasa malu. Dan macam-macam lagi.

Pendek kata, apabila rasa malu mula sedikit demi sedikit hilang dari seseorang, maka terbukalah pintu kemaksiatan dan fitnah bakal bermaharajalela. Sebab itu sifat malu penting untuk seseorang jaga dan pelihara. Jangan terpengaruh dengan sistem pendidikan barat yang mengajar anak-anak mereka agar tidak malu. “Just Do It” antara kata-kata popular di kalangan remaja dan masyarakat. Walaupun ada kebaikannya kepada diri dan masyarakat akan kata-kata itu, namun ia perlu diperhalusi. Agar kaum muslimin tidak lari dari nilai agama yang diajar Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wasallam.


Walaupun kita ummat ISLAM disuruh untuk memiliki sifat malu, namun dalam bab menuntut ilmu dan menyatakan yang haq kita seharusnya tidak terlalu dikongkong malu. Malah, wanita-wanita ketika zaman Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wasallam tidak menghalangi diri mereka dari bertanya dan mendalami ilmu pengetahuan. Mereka tidak malu dalam menuntut ilmu. Sifat ini wajar kita contohi.

Malah dalam pepatah Melayu juga ada mengatakan bahawa “Malu bertanya sesat jalan”. Ini menunjukkan bahawa dalam mengeluarkan diri dari kejahilan dan kekaburan, jangan kita malu untuk bertanya dan menimba ilmu. Selain itu, rasa malu untuk melakukan kebaikan juga tidak patut ada di dalam diri manusia. Kerana ALLAH subhanahu wata’ala menyuruh hamba-hambaNYA agar berlumba-lumba membuat kebaikan.

Letaklah rasa malu di tempat yang sepatutnya. Malulah dalam kebanyakan hal, namun dalam bab ilmu, menyatakan kebenaran dan mengejar ganjaran untuk berbuat kebaikan jangan pula malu menghalangi diri kita. Namun, sifat malu tidak boleh juga dibuang apabila membuat ketiga-tiga perkara kebaikan tersebut. Ini kerana malu akan menjadi sempadan diri agar tidak melampaui batas, walaupun dalam hal membuat kebaikan.

Mudah-mudahan ALLAH subhanahu wata’ala memberikan hidayah dan taufiqNYA kepada kita semua, amin.

Milikilah Sifat Malu
www.iluvislam.com
Shahmudzir Nordzahir
DihantarOleh:uteh
editor:mawaryangtinggi

khusnul khotimah

Firman Allah Swt :


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (AL'ANKABUUT 57).

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan. (AL ANBYAA' 35)


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (ALI 'IMRAN 185).


Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah." Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya). (YUNUS 49).


Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (AL JUMU'AH 08).


Dari ayat-ayat di atas kita mendapatkan informasi dengan jelas bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi pada setiap makhluk Allah Swt yang bernafas dan waktunya pun sudah di tentukan. Tapi sayang kita tidak bisa mendapatkan informasi tentang kapan, dimana dan diwaktu apa makhluk menemui ajalnya, karena hal itu adalah hak prerogatif Allah Swt. Akan tetapi yang paling penting bagi kita adalah berusaha dan berdoa agar supaya akhir kehidupan kita berakhir dengan husnul khotimah dan bukan su`ul khotimah. Karena kita telah mengetahui bahwa dalam kematian hanya ada dua pilihan yaitu husnul khotimah dan su`ul khotimah. Dan yang mengetahui kematian seseorang khusnul khotimah atau su`ul khotimah secara hakiki hanyalah Allah Swt, namun Allah Swt menginformasikan kepada kita melalui nabi Muhammad Saw tentang tanda-tanda seseorang yang mati dengan membawa gelar husnul khotimah, yang dapat kita ketahui saat seseorang dalam keadaan sakaratul maut.


Berikut ini sebagian kecil tanda-tanda seseorang mati dalam keadaan husnul khotimah :


1. Ditinjau dari kata-kata terakhirnya, apabila kata-kata terakhirnya adalah kalimah-kalimah toyyibah, maka itu tandanya dia mati dalam keadaan husnul khotimah.


Dari Mu`adz bin Jabal Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa ucapan terakhirnya : La ilaha illallah, maka dia masuk surga" (HR Abu Daud & Al-Hakim).


Dari Anas bin Malik Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Sebaik-baiknya dzikir adalah La ilaha illallah dan sebaik-baiknya doa adalah Alhamdulillah" (HR At-Turmudzi & Ibnu Majah).


Karena itulah sunnah hukumnya membimbing orang yang sedang sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat tahlil.


Dari Abi Sa`id Al-Hudri Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Bimbinglah orang mati kalian untuk mengucapkan La ilaha illallah" (HR Muslim).


2. Di tinjau dari aktifitas terakhirnya, apabila seseorang di masa-masa akhir hidupnya beribadah baik ibadah mahdho maupun ghoiru mahdho dan dia meninggal dalam keadaan beribadah atau usai menjalankan ibadah maka itulah tandanya dia mati dalam keadaan husnul khotimah.


Dari Ali bin Abi Tholib Ra, Dia berkata : "Suatu hari saya akan menunaikan sholat subuh di mesjid bersama Rasulullah Saw, tapi ditengah jalan aku bertemu dengan seseorang yang sudah renta juga mau ke mesjid untuk menunaikan sholat subuh, aku terus berjalan dibelakangnya, dan ketika kami berdua sampai di mesjid ternyata sholat berjamaah sudah usai, akhirnya aku sholat subuh berjamaah dengan kakek itu, dan ketika aku salam tahiyyat akhir si kakek tetap bersujud dan ternyata si kakek telah meninggal dunia, lalu para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, bagaimana keadaan kakek ini di akherat?" Rasulullah menjawab, "Dia masuk surga" (HR Ahmad & Daruqutni).


3. Di tinjau dari hari terakhirnya (hari jum`at), begitu banyak orang-orang sholih yang meninggal dunia pada hari jum`at, karena mati pada hari jum`at adalah tanda kematian husnul khotimah.


Dari Ibnu umar Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Tiada seorang muslim yang meninggal pada hari atau malam jum`at, kecuali Allah akan menyelamatkannya dari siksa kubur" (HR Ahmad & At-Turmudzi).


Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Sebaik-baik hari adalah hari jum`at, karena pada hari jum`at itulah Adam di ciptakan. Pada hari jum`at ia di masukkan ke surga dan pada hari jum`at ia di keluarkan dari surga. Pada hari jum`at ia wafat dan tidak akan terjadi kiamat kecuali hari jum`at" (HR As-Syafi`I dan Ahmad).


4. Di tinjau dari kondisi terakhir fisiknya. Kita sering menyaksikan seseorang meninggal dengan kondisi tubuh yang tidak wajar seperti tubuh gosong, penuh dengan luka dan nanah, berbau busuk, keluar belatung, lidah menjulur dan mata melotot atau bahkan tidak ada yang mau memandikan, mengkafani dan mensholatkan dll. Seseorang yang matinya husnul khotimah tidak akan mengalami kejadian-kejadian seperti diatas, malah sebaliknya seperti wajah mayit terlihat tenang dan damai bahkan ada yang tersenyum, banyak yang berta`ziyah dan mensholatkan dll.


Dari Abu Darda Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Tidak akan keluar ruhnya seorang mu`min sampai dia melihat tempatnya di surga, dan tidak akan keluar ruhnya seorang kafir sampai dia melihat tempatnya di neraka" (HR Al-Baihaqi).


Dari Aisyah Ra, Rasulullah bersabda: "Tidak satu mayit pun yang di sholatkan oleh seratus orang kaum muslimin dan semuanya memintakan syafa`at untuknya, pasti syafa`at mereka di terima" (HR Muslim)


Semoga kita bersama di karunia Allah Swt untuk dapat berusaha dan berdoa supaya kita mendapat gelar husnul khotimah di akhir hayat kita. Amin Amin Yaa Robbal Alamin. Wallahu a`lam bisshowaab.


Sumber : Materi Pengajian Masjid Baiturrahman Bontang
Oleh : Ustadz Achmad Buchory Noor


Dan Berikut ini sebagian besar tanda-tanda seseorang mati dalam keadaan husnul khotimah (dari berbagai sumber) :

Tanda -Tanda Khusnul Khotimah
Setiap hamba Allah yang berjalan diatas manhajnya yang lurus yang berusaha meneladani kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya ajmain tentu sangat mengharapkan akhir kesudahan yang baik. Allah telah menetapkan tanda-tandanya dintara tanda-tanda husnul khatimah itu adalah:
1. mengucapkan kalimah syahadat ketika wafat
Rasulullah bersabda :”barangsiapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan “La ilaaha illallah” maka ia dimasukkan kedalam surga” (HR. Hakim)
2. ketika wafat dahinya berkeringat
Ini berdasarkan hadits dari Buraidah Ibnul Khasib adalah Buraidah dahulu ketika di Khurasan, menengok saudaranya yang tengah sakit, namun didapatinya ia telah wafat, dan terlihat pada jidatnya berkeringat, kemudian ia berkata,”Allahu Akbar, sungguh aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya” (HR. Ahmad, AN-Nasai, at-Tirmidzi, Ibnu MAjah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ath-Thayalusi dari Abdullah bin Mas’ud)
3. wafat pada malam jum’at
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah “Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari jum’at atau pada malam jum’at kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur” (HR. Ahmad)

4. mati syahid dalam medan perang
Mengenai hal ini Allah berfirman:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhan-Nya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahal orang-orang yang beriman” (Ali Imraan:169-171)
Adapun hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang berkenaan dengan masalah ini sangat banyak dijumpai diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Rasulullah bersabda:
“Bagi orang yang mati syahid ada 6 keistimewaan yaitu: diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya didalam surga, dilindungi dari adzab kubur, dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memeberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
2. Seorang sahabat Rasulullah berkata: “Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah mengapa orang mukmin mengalami fitnah dikuburan mereka kecuali yang mati syahid? beliau menjawab: Cukuplah ia menghadapi gemerlapnya pedang diatas kepalanya sebagai fitnah” (HR. an-Nasai)
catatan:
Dapatlah memperoleh mati syahid asalkan permintaannya benar-benar muncul dari lubuk hati dan penuh dengan keikhlasan, kendatipu ia tidak mendapatkan kesempatan mati syahid dalam peperangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Barang siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menyampaikannya derajat para syuhada sekalipun ia mati diatas ranjangnya”(HR. Imam Muslim dan al-Baihaqi)
5. mati dalam peperangan fisabilillah

Ada dua hadist Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
1. Rasulullah bersabda:”Apa yang kalian katagorikan sebagai orang yang mati syahid diantara kalian? mereka menjawab :Wahai Rasulullah yang kami anggap sebagai orang yang mati syahid adalah siapa sja yang mati terbunuh dijalan Allah. Beliau bersabda:Kalau begitu ummatku yang mati syahid sangatlah sedikit. Para sahabat kembali bertanya:Kalau begitu siapa sajakah dari mereka yang mati syahid wahai Rasulullah? beliau menjawab: Barangsiapa yang terbunuh dijalan Allah, yang mati sedang berjuang dijalan Allah, dan yang mati karena penyakit kolera, yang mati karena penyakit perut (yakni disebabkan penyakit yang menyerang perut seperti busung lapar, diare atau sejenisnya) maka dialah syahid dan orang-orang yang mati tenggelam dialah syahid “(HR. Muslim, Ahmad, dan al-Baihaqi)
2. Rasulullah bersabda: Siapa saja yang keluar dijalan Allah lalu mati atau terbunuh maka ia adalah mati syahid. Atau yang dibanting oleh kuda atau untanya lalu mati atau digigit binatang beracun atau mati diatas ranjangnya dengan kematian apapun yang dikehendaki Allah, maka ia pun syahid dan baginya surga” (HR. Abu Daud,al-Hakim, dan al-Baihaqi)
6. mati disebabkan penyakit kolera.

Tentang ini banyak hadits Rasulullah meriwayatkannya diantaranya sebagai berikut:
1. Dari Hafshah binti Sirin bahwa Anas bin MAlik berkata:”Bagaimana Yahya bin Umrah mati? Aku jawab: “Karena terserang penyakit kolera” ia berkata:Rasulullah telah bersabda: penyakit kolera adalah penyebab mati syahid bagi setiap muslim” (HR. Bukhari, ath-Thayalusi dan Ahmad)
2. Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang penyakit kolera. Lalu beliau menjawab;”Adalah dahulunya penyakit kolera merupakan adzab yang Allah timpakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya kemudia Dia jadikan sebagai rahmat bagi kaum mukmin. Maka tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah kolera lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang Allah tetapkan baginya pahala orang yang mati syahid”(HR. Bukhari, al-Baihaqi dan Ahmad)
8. mati karena tenggelam.
9. mati karena tertimpa reruntuhan/tanah longsor.

Dalil dari 2 point diatas adalah berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
“Para syuhada itu ada lima; orang yang mati karena wabah kolera, karena sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan bangunan, dan syahid berperang dijalan Allah”
(HR.Imam Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad)
10. perempuan yang meninggal karena melahirkan.

Ini berdasarkan hadits yang diberitakan dari Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menjenguk Abdullah bin Rawahah yang tidak bisa beranjak dari pembaringannya, kemudian beliau bertanya :
“Tahukah kalian siapa syuhada dari ummatku? orang-orang yang ada menjawab:Muslim yang mati terbunuh” beliau bersabda:Kalau hanya itu para syuhada dari ummatku hanya sedikit. Muslim yang mati terbunuh adalah syahid, dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati karena bersalin adalah syahid (anaknya yang akan menariknya dengan tali pusarnya kesurga)”
(HR. Ahmad, Darimi, dan ath-Thayalusi) menurut Imam Ahmad ada periwayatan seperti itu melalui jalur sanad lain dalam Musnad-nya.
11. mati terbakar.

12. mati karena penyakit busung perut.

Tentang kedua hal ini banyak sekali riwayat, dan yang paling masyhur adalah dari Jabir bin Atik secara marfu’:
“Para syuhada ada 7: mati terbunuh dijalan Allah, karena penyakit kolera adalah syahid,mati tenggelam adalah syahid,karena busung lapar adalah syahid, karena penyakit perut keracunan adalah syahid,karena terbakar adalah syahid, dan yang mati karena tertimpa reruntuhan(bangunan atau tanah longsor) adalah syahid, serta wanita yang mati pada saat mengandung adalah syahid”
(HR. Imam Malik, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu MAjah dan Ahmad)
13. mati karena penyakit Tubercolosis (TBC).

Ini berdasarakan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
“Mati dijalan Allah adalah syahid, dan perempuan yang mati ketika tengah melahirkan adalah syahid, mati karena terbakar adalah syahid, mati karena tenggelam adalah syahid, mati karena penyakit TBC adalah syahid, dan mati karena penyakit perut adalah syahid”(HR.Thabrani)
14. mati karena mempertahankan harta dari perampok.

Dalam hal ini banyak sekali haditsnya, diantaranya sebagai berikut:
1. “Barangsiapa yang mati karena mempertahankan hartanya (dalam riwayat lain; Barang siapa menuntut hartanya yang dirampas lalu ia terbunuh) adalah syahid”
(HR. Bukhari, Muslim, Abu DAud, an-Nasa’i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
2. Abu Hurairah berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya berkata:
“Ya, Rasulullah, beritahukanlah kepadaku bagaimana bila ada seseorang yang datang dan akan merampas hartaku” beliau menjawab: ‘jangan engkau berikan’ Ia bertanya; bagaimana kalau ia membunuhku? beliau menjawab; Engkau mati syahid. Orang itu bertanya kembali,Bagaimana kalau aku yang membunuhnya? beliau menjawab; ia masuk neraka”(HR. Imam Muslim, an-Nasa’i dan Ahmad)
3. Mukhariq berkata, seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata :
“ada seorang laki-laki hendak merampas hartaku, beliau bersabda: Ingatkan dia akan Allah. Orang itu bertanya: bila tetap saja tak mau berdzikir? beliau menjawab: Mintalah tolong orang disekitarmu dalam mengatasinya.Orang itu bertanya lagi : Bila tidak saya dapati disekitarku seorangpun? Beliau menjawab:Serahkan dan minta tolonglah kepada penguasa.Ia bertanya: Bila penguasa itu jauh tempatnya dariku? beliau bersabda: berkelahilah dalam membela hartamu hingga kau mati dan menjadi syahid atau mencegah hartamu dirampas”
(HR. An-Nasa’i, dan Ahmad)
15 dan 16 mati dalam membela agama dan jiwa.
Dalam hal ini ada dua riwayat hadits sebagai berikut:
1.”"Barangsiapa mati terbunuh dalam membela hartanya maka ia mati syahid, dan siapa saja yang mati dalam membela keluarganya maka ia mati syahid, dan barang siapa yang mati dlam rangka membela agama(keyakinannya) maka ia mati syahid, dan siapa saja yang matimempertahankan darah (jiwanya) maka ia syahid”(HR. Abu Daud, an-Nasa’i, at-tirmidzi, dan Ahmad)
2. “Barangsiapa mati dalam rangka menuntut haknya maka ia mati syahid”
(HR. An-Nasa’i)
17. mati dalam berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah.
Dalam hal ini ada dua hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wasslam :
1.”Berjaga-jaga (waspada) dijalan Allah sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa selama sebulan dengan mendirikan (shalat) pada malam harinya. Apabila ia mati, maka mengalirkan pahala amalannya yang dahulu dilakukannya dan juga rezekinya serta aman dari siksa kubur(fitnah kubur)”
(HR. Imam Muslim, an-Nasa’i, Tirmidzi, Hakim dan Ahmad)
2. “setiap orang yang meninggal akan disudahi amalannya kecuali orang yang mati dalam berjaga-jaga dijalan Alllah, maka amalannya dikembangkan hingga tiba hari kiamat nanti serta terjaga dari fitnah kubur”
(HR. ABu Daud, Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad)
18. orang yang meninggal pada saat mengerjakan amal shaleh.

Ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam:
“Barangsiapa mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ dengan berharap akan keridhaan Allah, dan diakhir hidupnya mengucapkannya, maka ia akan masuk surga. Dan, barangsiapa yang berpuasa sehari mengharap keridhaan Allah kemudian mengakhiri hidupnya dengannya (puasa), maka ia masuk surga. Dan barangsiapa bersedekah mencari ridha Allah dan menyudahinya dengan (sedekah) maka ia akan masuk surga”
(HR. Ahmad)
tammat walhamdulillahi rabbil alamiin. Mudah-mudahan Allah menjadikan akhir hidup kita husnul khatimah dan memasukkannya dalam golongan orang-orang yang mati syahid amin.

Tipe Wanita Menurut Islam dan Al Quran

Islam tentu sangat memperhatikan kaum perempuan, dimana hal tersebut
tidak berlaku dalam ajaran-ajaran sebelum kedatangan Islam. Posisi perempuan
begitu penting (dipentingkan) sehingga sering terdengar suatu ungkapan bahwa
tegaknya suatu negara (kelompok) sangat tergantung dengan perilaku perempuan
dalam kelompok tersebut. Mungkin ada yang menganggap ini berlebihan, meski tidak bisa dipungkiri bahwa peran perempuan sangat berdekatan dengan kesuksesan dan juga kegagalan!

Dalam ajaran Islam, laki-laki dan perempuan tidak dibedakan peranannya dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Keduanya memiliki kesempatan yang sama dalam berusaha berbuat yang terbaik bagi diri, keluarga dan masyarakatnya.

Jelasnya, Alqur’an tidak membedakan perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan. Beberapa ayat menjelaskan hal tersebut:

“Barangsiapa yang melakukan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia mukmin, mereka akan masuk surga …” (QS. 4:124, 40:40)

“Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia
mukmin, kami hidupkan dia dalam kehidupan yang baik …” (QS. 16:97)

“Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beriman diantara kamu, baik laki-laki maupun perempuan …” (QS. 3:195)

“Tidaklah boleh bagi mukmin laki-laki dan perempuan merasa keberatan bila Allah telah memutuskan sesuatu perkara …” (QS. 33:36)

“Orang-orang beriman laki-laki dan perempuan satu sama lain saling melindungi. Mereka sama-sama menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya. Allah menyayangi mereka …”(QS. 9:71)

Begitu gamblangnya Al Qur’an memperhatikan makhluk perempuan, selain ayat-ayat diatas yang menunjukkan tidak adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam hubungannya dengan pekerjaan, amal dan tindakan, Al Qur’an juga memberikan kepada kita penjelasan tentang beberapa tipologi perempuan, dimana bisa dikatakan, bahwa apa yang pernah terjadi pada masa lalu dan diabadikan dalam Al Qur’an agar menjadi pelajaran bagi kaum mukminin yang perempuan khususnya dan laki-laki pada umumnya. Karena, sekali lagi, masalah yang berhubungan dengan perempuan yang terjadi di muka bumi ini, hampir selalu terkait dengan kaum laki-laki.

Oleh karena itu, menjadi penting untuk memperhatikan beberapa tipe perempuan yang pernah diterangkan Allah dalam Al Qur’an. Dimana Al Qur’an secara khusus membicarakan jenis-jenis perempuan berdasarkan amalnya. Untuk jenis perempuan ideal yang patut diteladani, seringkali Al Qur’an menyebut nama jelas. Namun untuk melukiskan perempuan “buruk” Al Qur’an tidak menyebut nama secara langsung.

Tipe pertama adalah type wanita saleh yang diwakili oleh Maryam. Nama Maryam disebut beberapa kali dalam ayat-Nya selain juga menjadi salah satu nama Surat dalam Al Qur’an. Ia adalah type perempuan saleh yang menjaga kesucian dirinya, mengisi waktunya dengan pengabdian yang tulus kepada Rabb-nya. Karena kesalehahannya itulah ia mendapat kehormatan menjadi ibu dari kekasih Allah, Isa alaihi salam, tokoh terkemuka di dunia dan akhirat (QS. 3:45).

“Dan Maryam putra Imran, yang menjaga kesucian kehormatannya. Kami tiupkan roh Kami dan ia membenarkan kalimah Tuhan-Nya dan kitab-kitab-Nya dan ia termasuk orang yang taat” (QS. 66:16).

Maryam adalah tipe perempuan saleh. Kehormatannya terletak dalam kesucian, bukan dalam kecantikan. Tentu masih banyak deretan nama-nama perempuan saleh baik yang tersebut dalam hadits-hadits Nabi maupun dalam sejarah.

Al Qur’an juga menerangkan tipe-tipe perempuan pejuang untuk menjadi contoh bagi para muslimah.

Tipe yang kedua ini dicontohkan dengan sempurna oleh Asiyah binti Mazahim, istri Fir’aun yang hidup dibawah kekuasaan suami yang melambangkan kezaliman. Asiyah dengan teguh memberontak, melawan dan mempertahankan keyakinannya apapun resiko yang diterimanya. Semuanya ia lakukan karena ia memilih rumah di Surga, yang diperoleh dengan perjuangan menegakkan kebenaran, ketimbang istana di dunia, yang dapat dinikmatinya bila ia bekerja sama dengan kezaliman. “Dan Allah menjadikan teladan bagi orang-orang yang beriman perempuan Fir’aun, ketika ia berdo’a: Tuhanku, bangunkan bagiku rumah di surga. Selamatkan aku dari Fir’aun dan perbuatannya. Selamatkan aku dari kaum yang zalim.” (QS. 66:11).

Al Qur’an memuji perempuan yang membangkang kepada suami yang zalim. Pada saat yang sama Al Qur’an juga mengecam perempuan yang menentang suami yang memperjuangkan kebenaran, seperti istri Nabi Nuh alaihi salam dan istri Nabi
Luth alihi salam. Dalam kaitannya dengan hal ini, Al Qur’an juga menambahkan satu contoh perempuan yang mendukung kezaliman suaminya (sebagai contoh lawan dari Asiyah) yakni, istri Abu Lahab.

Selain Asiyah, ada pula contoh-contoh perempuan pejuang meski suami-suami mereka bukanlah orang-orang zalim, melainkan para pejuang kebenaran. Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Nusaibah binti Ka’ab, adalah contoh nama-nama yang bersama suami mereka bahu-membahu memperjuangkan agama Allah.

Tipe ketiga yang dijelaskan dalam Al Qur’an adalah tipe perempuan penggoda.Jelas untuk yang satu ini diwakili oleh Zulaikha penggoda Nabi Allah Yusuf alaihi salam. Dalam kisah Zulaikha menggoda Yusuf inilah, Al Qur’an menunjukkan kepandaian perempuan dalam melakukan makar dan tipuan. Manakah tipe anda dari ketiga tipe tersebut? Wallahu a’lam bishshowaab

LA TAHZAN....!! Ada Apa Dengan Air Mata [?]

Wahai mataku yang menangis...
Mungkin saat ini kau sedang bahagia, mungkin juga kau sedang berduka. Apapun situasimu, air mata yang menggenangi kelopak matamu lalu mengalir ke pipi ialah anugerah Allah yang tidak terhingga. Ia mampu membuang racun ditubuhmu kemudian disusuli ketenangan jiwa. Bersyukurlah padaNya kerana hingga saat ini kau masih mampu menangis,bersyukurlah.....

Tatkala diri ini melihat ada insan memandang jernihnya air mata yg mengalir adalah 1 kelemahan, Allah'alam..

Sedang hati sedih ini, serta kesedihan seisi alam bisa dibahagiakan kembali dengan air mata juga, terlintas di benak diri akan ingatan mulia sebuah air mata dari firman Allah

"Dan mereka menyungkur (sujud) di atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (Surah al-Isra': 109)

"Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud sambil menangis." (Surah Maryam: 58)


maka ada apa sebenarnya dengan air mata kalian itu? tidakkah dapat ditemui sebuah damai di situ? iya benar, jangan berlarut-larut dengan kebasahan dari air mata yg mengalir, nafsu itu akan menjadi makanan yang sedap oleh syaitan (Na'uzubillah min zalik)....

pagi ini, masih terasa dinginnya oleh ana..sejuk hingga kebas terasa jemari ini..langkah dibuka pnuh kibar demi ilmu talaqi sbntr nti..namun sapaanku pagi ini AIR MATA rupanya..hampir sejam mananti sambil istighfar tnpa henti sebagai pemujuk kalam, sebak pula kian mghimpit menyesakkan lg nafas yg sediakala sempit.

bismillah, itulah lafazku lg u mengorak langkah mengerah keringat u menyelesaikn permasalahn yang diri sendiri buntu apakah yg bernama masalah ini..masyaAllah, diri pula dimarahi dengan suara2 pegawai, apakh salah bertanya? kata ayah, ubat kejahilan itu adalah bertanya...subhanallah sabarlah diri, bangun utuhkanlah jiwamu kembali, jagn lemah...

'LA TAHZAN ukhti...!!!!!!!!!' puas terasa semangat imanku melejit, meskipun suara batin yang menjerit...
Alhamdulillah, setidaknya jeritan kalam bisa menjadi wadah terbaik buat menjaga qalbu ku agar tetap dalam pelukan islamiyah...

Tangisan bukan keaiban tapi satu keperluan. Apakah kau lelaki atau wanita, kau pasti menangis. Ia menjernihkan kornea dan menajamkan penglihatan. Ia meringankan ketenangan jiwa. Ia mengungkapkan kesedihan lalu merungkai beban yang tersimpan.
bedanya, bagaimana cara kita dalam menyikapi tangisan untuk mencari iman dengan air mata? insyaAllah, pasti dapat dicari bukan? Amin.....

akhwat-akhwat fillah sayang...
Sesungguhnya tangisan kerana Allah ketika gembira atau derita ialah ubat mujarab untuk mencari ketenangan hidup. Dengarilah pesanan Rasulullah s.a.w. dalam menyampaikan kalam Yang Esa,
"Aku haramkan neraka kepada mata yang selalu menangis kerana takut pada Allah." (Riwayat Ahmad dan an-Nasa'i)

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami;
sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra’: 107-109)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا...

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Al-Qur’an turun dengan kesedihan. Apabila kamu membacanya maka menangislah namun jika kamu tidak menangis (paksalah) untuk menangis”. HR. Ibnu Majah.

Jazakumullah wa barakallah...